وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى الِـهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.اَللهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعْوَتَنِيْ اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِىْ عَلَيْهِ الثَّوَابُ فَأَسْئَلُكَ اللهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَاالجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى الِـهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.( 3 x )
Faedahnya: Diampuni oleh Allah SWT dosa-dosanya dalam tahun yang telah dilaluinya ini.
دعـاء اوّل السـنة
وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى الِـهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.اَللهُمَّ اَنْتَ الاَبَدِيُّ القَدِيْمُ الاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَجُوْدِكَ المُعَوَّلِ وَهَذِهِ عَـامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ نَسْئَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ اَوْلِيَـائِهِ وَجُوْدِهِ وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الاَمَّـارَةِ بِالسُّوْءِ وَالإِشْتِغَـالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَاالجَلاَلِ وَالإِكْـرَامِ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَاكَرِيْمُ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى الِـهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. آمِيْنَ( 3 x )
Faedahnya: Diampuni oleh Allah SWT dosa-dosanya dalam tahun yang akan dilaluinya.
KEISTIMEWAAN DI BULAN MUHARROM
* Bulan Muharrom adalah salah satu diantara empat bulan yang dimulyakan ( Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom, Romadlon).
* Bulan Muharrom adalah permulaan hijriyah.
* Bulan muharrom adalah bulan yang paling mulia setelah bulan romadlon.
* Terdapat 10 hari yang dimulyakan:
Umat Islam mengagungkan 3 perkara yaitu: 10 hari dalam setahun.
1. 10 hari pertama bulan Muharrom
2. 10 hari pertama bulan Dzulhijjah
3. 10 hari terahir bulan Romadlon
Terdapat hari ASYURO yaitu hari kemenangan dan hari penerima taubat dan terjadinya peristiwa yang sangat dasyatm antara lain :
* Allah menerima taubat Nabi Adam dan dipertemukan kembali dengan istrinya Hawa.
* Nabi Idris diangkat ketempat yg tinggi.
* Allah menyelamatkan Nabi Nuh dari kaumnya dan perahunya berlabu dibukit juudy.
* Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api Raja Namrud.
* Nabi Yusuf dikeluarkan dari penjara.
* Sembuhnya penyakit Nabi Ayub dari penyakit kulit yang sudah bertahun-tahun.
* Allah Mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan.
* Nabi Musa membela lautan menjadi 2 dan selamat dari kejaran Fir’aun.
* Allah mengampuni dosa Nabi Daud
* Allah memberi kerajaan pada Nabi Sulaiman.
* Allah mengampuni Nabi Muhammad SAW atas dosa-dosa yang lalu dan dosa-dosa yang akan datang.
AMALAN DI BULAN MUHARROM Rosulullah SAW bersabda:
* Barang siapa yang berpuasa pada hari Asyuroh maka Allah akan memberi kepadanya pahala 10.000 Malaikat, pahala 10.000 orang yg melaksanakan haji dan umroh, pahala 10.000 orang yang mati sahid.
* Barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari asyuroh maka Allah SWT akan menaikkan kepadanya dengan setiap rambut satu derajat.
* Barang siapa yang memberi makan pada orang yang berbuka puasa pada hari asyuroh maka seolah-olah ia telah memberi makan kepada seluruh umat Rosululloh SAW ya sedang berbuka puasa.
* Barang siapa yang menghidupkan malam asyuroh dengan beribadah kepada Allah SWT maka ia diumpamakan seperti ibadahnya ahli langit tujuh.
* Seorang suami yg meluaskan nafkahnya pada istrinya makan Allah SWT akan meluaskan rizkinya sampai setahun.
* Orang yg memberi minum dengan segelas air Maka Allah akan memberinya minum di hari kiamat kelak.
* Orang yang mandi/bersuci maka ia tidak akan sakit ditahun ini melainkan sakit yg membuatnya meninggal dunia.
* Orang yang menjenguk orang sakit seperti menjenguk anak adam seluruhnya.
Rabu, 15 Desember 2010
Jumat, 26 November 2010
Fokuslah Bila Anda Ingin Hebat !!
Jika Anda ingin menjadi master di bidang tertentu ingatlah kata-kata ini: "berfokuslah pada satu hal atau keterampilan dengan kesetiaan tanpa henti untuk terus melakukan perbaikan, dan berkeinginan kita menjadi yang terbaik". Fokus!! Perbaikan tiada henti dan keinginan kuat menjadi yang terbaik adalah bahan bakar utama untuk menjadi seorang spesialis. Dan sebagian mayoritas orang besar berasal dari seorang spesialis.
B.J. Habibie adalah seorang spesialis di bidang pesawat terbang. Apakah kesuksesannya murni merupakan karunia alam? Tentu saja jawabannya tidak. Ia mengambil apa yang diberikan alam kepadanya dan menjalankan formula tadi; fokus ditambah perbaikan terus tiada henti dan keinginan kuat untuk menjadi yang terbaik. Lelaki kelahiran Pare-Pare ini tidak ingin menjadi yang terbaik di lima bidang yang berbeda. Misalnya, ia tidak ingin ahli di bidang kereta api atau kendaraan berida empat. Mantan Presiden RI ke tiga ini hanya ingin hebat pada bidang pesawat terbang. Dan ia berhasil.
Michael Jordan fokus pada basket. Cristiano Ronaldo fokus pada sepakbola. Muhamad Yunus fokus pada microfinance. Bill Gates fokus pada software development computer, Dedi Mizwar fokus pada film. Yusuf Mansur fokus pada ilmu sedekah. Hermawan Kertajaya fokus pada dunia marketing. Mereka dan banyak orang lainnya tidak memecah fokus yang ditekuninya. Dan mereka berhasil.
Thomas A Edison mendaftarkan 1.093 paten. Ia juga menemukan bola lampu hingga gramofon. Lelaki yang pernah dicap idiot oleh gurunya ini tidak mencoba untuk menjadi pedagang besar, penyair terkenal, dan musisi ternama. Ia hanya berfokus pada penemuan-penemuannya. Ia juga memperbaikinya setiap hari. Dan selalu terdorong untuk menjadi penemu hebat dan memberi manfaat bagi dunia. Selanjutnya, ia membiarkan waktu yang menciptakan keajaiban. Dan ternyata, keberhasilan mengetuk pintu bagi orang-orang yang memang fokus pada bidangnya. Mereka para spesialis.
Mungkin Anda ingat akan kisah Pablo Picasso. Suatu hari, seorang wanita melihatnya di pasar dan ia mengambil secarik kertas. ”Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?” Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggoreskan sebentuk seni di atas kertas yang diberikan. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, ”Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.” Wanita itu bingung dan berkata, ”Tapi tuan Anda hanya perlu waktu 30 detik untuk menghasilkan mahakarya ini.” Sambil tertawa Picasso menjawab, ”saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”
Ketahuilah apa kelebihan Anda. Temukan talenta Anda, lalu berusaha keraslah sekuat tenaga untuk memoles talenta Anda. Ketahuilah apa yang menjadi bagian terbaik dalam hidup Anda. Anda sangat ahli dan menyenangi hal itu. Bahkan Anda terkadang gelisah ketika Anda tidak melakukan hal itu. Mungkin Anda seorang komunikator yang jago dalam bergaul. Mungkin Anda ahli dalam hal memperlancar keadaan. Mungkin Anda seorang inovator yang mampu melahirkan sesuatu yang baru. Mungkin Anda orang yang tekun menjalankan bisnis walau hasilnya kecil namun volumenya besar. Atau Anda seorang yang ahli memberikan nilai tambah sehingga Anda mampu menjual produk yang sama namun dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Temukan kelebihan Anda, lalu kembangkan. Fokuslah pada kelebihan Anda dan terus menerus diasah, lakukan perbaikan terus menerus, dan berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda. Saya yakin tak lebih sepuluh tahun dari sekarang Anda akan menjadi orang yang hebat di bidang Anda. Mungkin orang akan membicarakan atau menulis tentang Anda.
Mari bertaruh dengan saya. Jika Anda sudah menemukan talenta Anda dan mencurahkan waktu setiap hari untuk mengasah talenta itu dan terus menerus memperbaikinya serta berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang itu, tak lebih dari 10 tahun yang akan datang Anda telah menjadi seorang yang hebat. Ketika itu bawalah hadiah kepada saya, karena saya telah memenangkan pertaruhan ini. Bila Anda gagal, itu karena Anda ingin hebat disemua hal sehingga fokus Anda pecah. Akhirnya Andapun tak mendapatkan semua hal itu.
Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia
B.J. Habibie adalah seorang spesialis di bidang pesawat terbang. Apakah kesuksesannya murni merupakan karunia alam? Tentu saja jawabannya tidak. Ia mengambil apa yang diberikan alam kepadanya dan menjalankan formula tadi; fokus ditambah perbaikan terus tiada henti dan keinginan kuat untuk menjadi yang terbaik. Lelaki kelahiran Pare-Pare ini tidak ingin menjadi yang terbaik di lima bidang yang berbeda. Misalnya, ia tidak ingin ahli di bidang kereta api atau kendaraan berida empat. Mantan Presiden RI ke tiga ini hanya ingin hebat pada bidang pesawat terbang. Dan ia berhasil.
Michael Jordan fokus pada basket. Cristiano Ronaldo fokus pada sepakbola. Muhamad Yunus fokus pada microfinance. Bill Gates fokus pada software development computer, Dedi Mizwar fokus pada film. Yusuf Mansur fokus pada ilmu sedekah. Hermawan Kertajaya fokus pada dunia marketing. Mereka dan banyak orang lainnya tidak memecah fokus yang ditekuninya. Dan mereka berhasil.
Thomas A Edison mendaftarkan 1.093 paten. Ia juga menemukan bola lampu hingga gramofon. Lelaki yang pernah dicap idiot oleh gurunya ini tidak mencoba untuk menjadi pedagang besar, penyair terkenal, dan musisi ternama. Ia hanya berfokus pada penemuan-penemuannya. Ia juga memperbaikinya setiap hari. Dan selalu terdorong untuk menjadi penemu hebat dan memberi manfaat bagi dunia. Selanjutnya, ia membiarkan waktu yang menciptakan keajaiban. Dan ternyata, keberhasilan mengetuk pintu bagi orang-orang yang memang fokus pada bidangnya. Mereka para spesialis.
Mungkin Anda ingat akan kisah Pablo Picasso. Suatu hari, seorang wanita melihatnya di pasar dan ia mengambil secarik kertas. ”Tuan Picasso, saya adalah penggemar Anda. Maukah Anda menggambar sedikit untuk saya?” Picasso dengan gembira memenuhi permintaan itu dan menggoreskan sebentuk seni di atas kertas yang diberikan. Sambil tersenyum ia mengembalikan kertas itu sambil berkata, ”Nilai kertas ini bisa jutaan dolar lho.” Wanita itu bingung dan berkata, ”Tapi tuan Anda hanya perlu waktu 30 detik untuk menghasilkan mahakarya ini.” Sambil tertawa Picasso menjawab, ”saya membutuhkan waktu 30 tahun agar dapat menghasilkan mahakarya dalam waktu 30 detik.”
Ketahuilah apa kelebihan Anda. Temukan talenta Anda, lalu berusaha keraslah sekuat tenaga untuk memoles talenta Anda. Ketahuilah apa yang menjadi bagian terbaik dalam hidup Anda. Anda sangat ahli dan menyenangi hal itu. Bahkan Anda terkadang gelisah ketika Anda tidak melakukan hal itu. Mungkin Anda seorang komunikator yang jago dalam bergaul. Mungkin Anda ahli dalam hal memperlancar keadaan. Mungkin Anda seorang inovator yang mampu melahirkan sesuatu yang baru. Mungkin Anda orang yang tekun menjalankan bisnis walau hasilnya kecil namun volumenya besar. Atau Anda seorang yang ahli memberikan nilai tambah sehingga Anda mampu menjual produk yang sama namun dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Temukan kelebihan Anda, lalu kembangkan. Fokuslah pada kelebihan Anda dan terus menerus diasah, lakukan perbaikan terus menerus, dan berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda. Saya yakin tak lebih sepuluh tahun dari sekarang Anda akan menjadi orang yang hebat di bidang Anda. Mungkin orang akan membicarakan atau menulis tentang Anda.
Mari bertaruh dengan saya. Jika Anda sudah menemukan talenta Anda dan mencurahkan waktu setiap hari untuk mengasah talenta itu dan terus menerus memperbaikinya serta berkomitmenlah untuk menjadi yang terbaik di bidang itu, tak lebih dari 10 tahun yang akan datang Anda telah menjadi seorang yang hebat. Ketika itu bawalah hadiah kepada saya, karena saya telah memenangkan pertaruhan ini. Bila Anda gagal, itu karena Anda ingin hebat disemua hal sehingga fokus Anda pecah. Akhirnya Andapun tak mendapatkan semua hal itu.
Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia
Sabtu, 20 November 2010
Siapa Bersungguh-sungguh, Ia Mendapatkannya
Man Jadda Wa Jada.” (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya)
Kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, boleh jadi, justru kemiskinanlah yang menjadi ‘cambuk’ penyemangat dan motivasi untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Itulah yang dilakukan oleh Hadi beberapa puluhan tahun silam. Tak pingin terpuruk terus menerus dalam hal ekonomi, Hadi nekat untuk terus melanjutkan sekolah, sekalipun keinginannya tersebut bertentangan dengan kehendak kedua orang tuanya. Ia menyadari, bahwa, hanya ilmulah yang mampu mengangkat derajat keluarganya, khususnya, dirinya sendiri dari ketidakberdayaan hidup, terutama masalah ekonomi, “Nabi SAW kan pernah bersabda, bahwa barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka ilmulah kuncinya” ujar Hadi menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad SAW.
“Siapa yang akan membiayai sekolahmu? Wong makan saja kita sulit. Sudahlah, bantu saja bapak ngaret atau nyari kayu di hutan, ndak usah mikirin sekolah”. Demikianlah jawaban yang diterima Hadi, ketika ia menuturkan keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi lagi.
Waktu itu, Hadi baru lulus SD. Sekalipun dapat balasan yang negatif dari orangtua, tidak membuat Hadi uring-uringan. Dia faham, bahwa kondisilah yang menyebabkan mereka memiliki pemikiran demikian. sebab itu, dia menjelaskan kepada kedua orang tuanya, soal biaya sekolah, dia tidak akan membebani mereka, ”Saya akan mencari uang sendiri untuk biaya sekolah. Yang terpenting, ibu dan bapak mengizinkan saya sekolah,” tegas Hadi waktu itu, yang kemudian dikabulkan oleh ibu dan bapaknya.
Dari segi finansial, memang, waktu itu, keluarga Hadi tergolong keluarga papa. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja, mereka masih kelepotan. Hampir setiap hari, yang menjadi menu utama mereka adalah nasih putih dan sepotong tempe atau ikan asin, ”kalau lauknya ikan asin, semuanya harus habis, hatta kepala dan tulang-tulangnya. Kalau tidak, ibu akan marah. Dibilang mubadzir” kenang Hadi.
Karena itu, nyaris masa kanak-kanaknya digunakan untuk membantu orang tua menyari kayu atau merumput di hutan. Setiap sepulang sekolah, dia langsung tancap gas untuk menunaikan tugas-tugas tersebut, tak peduli panasnya terik sinar matahari atau derasnya guyuran hujan. Jadi, bisa dibilang, sejak dini, Hadi telah terlatih untuk hidup mandiri. Sebab itu, senyum sumringah nampak di wajahnya, ketika orang tuanya mengabulkan permohonannya untuk melanjutkan studi, sekalipun harus berjuang sendiri.
Merantau
Tidak lama setelah itu, Hadi kecilpun mulai menyusun rencana. Dia putuskan untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah Islam yang berlokasi di kota Surabaya. Padahal, daerah kelahirannya itu Lamongan. Jarak antar keduanya (Lamongan-Surabaya) ± 90 km.
Tidak berapa lama setibanya di kota pahlawan tersebut, Hadi langsung bergerak untuk mencari biaya hidup. Berbagai macam pekerjaan pernah dilakoni, salah satunya adalah sebagai sales roti. Jangan dibayangkan, dalam mengedarkan barang-barangnya, Hadi menggunakan sepedah motor, sehingga mempermudah jarak tempuh. Tidak sama sekali. Dia menggunakan sepedah pancal. Hampir setiap hari, Hadi harus menempuh berkilo-kilo meter perjalanan dengan mengayuh sepedah untuk menjajakan jualannya.
Selain tekun bekerja, ada kelebihan lain yang dimiliki Hadi. Dia mampu membaca peluang bisnis. Dan keistimewaan inilah yang kemudian hari, menyebabkannya menjadi orang sukses. Pernah suatu hari, kenangnya, dia menghadap kepala sekolah, untuk mengajukan diri menjadi fasilitator dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekolah/guru. –misal- pembuatan seragam guru. Bagai kejatuhan buah duren, sang-kepala sekolah pun mengabulkan. Dan dari sini, penghasilan Hadi mulai bertambah. Bahkan, meskipun tidak banyak, dia mampu mengirimi keluarganya uang, untuk belanja atau sebagai tambahan biaya sekolah adik-adiknya.
Siswa Berprestasi
Hadi bukanlah tipe anak yang hanya piawai dalam mencari ma’isyah (kehidupan). Dalam hal intelektualitas, dia juga tidak ketinggalan. Terbukti, hampir setiap semesteran, nilainya selalu yang terbaik, sehingga berhak mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Terang saja, kondisi demikian sedikit-banyak telah meringankan biaya hidupnya.
Selesai mengetaskan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Hadi langsung melanjutkan sutidanya (SMA) di almamater yang sama. Prestasi-prestasi akademis, terus dia peroleh, sehingga nyaris dia tidak pernah membayar uang sekolah.
Terakhir beasiswa dia dapatkan ketika dirinya dinyatakan lulus di salah satu Universitas Negeri ternama di kota yang sama, Surabaya. Hal ni diberikan pihak sekolah untuk jangka waktu satu semester kepadanya, sebagai bentuk apresiasi, karena Hadi merupakan alumnus pertama sekolah tersebut yang mampu lulus di universitas negeri,”sebelumnya tidak pernah ada yang lulus”, paparnya.
Ada kenangan yang tak terlupakan oleh Hadi, ketika dia dinyatakan lulus SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasis Baru) di universitas tersebut. Perasaan senang dan bingung, bahagia dan sedih bercampur aduk mengiringi kesuksesannya. Betapa tidak, sebagai calon mahasiswa, tentu dia bangga dengan kekeberhasilannya. Akan tetapi, di lain pihak, dia juga dibingungkan dengan biaya kuliah yang pastinya tidak sedikit.
Di tengah kekalutannya tersebut, Hadi memutuskan untuk berkonsultasi dengan pihak keluarga, terutama kepada sang-ayah dan ibu. Mendengar tuturan dari buah hatinya, air mata sang-ibu tak terbendung, membasahi kedua pipinya. Dengan suara agak tertahan oleh isakan tangis bahagia, perempuan tersebut menyerahkan sesuatu pada Hadi, ”Ini maskawin ibu. Ambillah untuk biaya kuliahmu,” tuturnya yang membuat Hadi agak merinding mendengarnya, yang kemudian juga mencucurkan air mata. Pada awalnya, pemberian tersebut ditolak oleh Hadi, namun, karena melihat begitu kerasnya keinginan bundanya tersebut, Hadipun mengambilnya sebagai bekal untuk kuliah.
Emas tersebut kemudia dijual oleh Hadi. Sebagian untuk biaya kuliah dan biaya hidupnya, sebagian lagi, untuk membuka bisnis warung kecil-kecilan. Setelah menyelesaikan studinya, yang memang fokus mengambil jurusan ekonomi, Hadi langsung terjun kelapangan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh.
Bisnis di area pelabuhan adalah incarannya. Hal itu dipilih, karena dia yakin bahwa pelabuhan merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, ”Di sinilah (pelabuhan), seluruh barang-barang ekspor/impor mangkal untuk pertama kali, sebelum diedarkan ke seluruh daerah/negara. Peluang ini yang saya tangkap”. terangnya menuturkan alasannya. Berkat keuletan Hadi, tak ayal, dari tahun ke tahun bisnisnya terus berkembang. Bahkan, kini Hadi telah menjadi salah satu milioder. Dia telah memiliki ratusan kayawan/karyawati. Bisnisnyapun telah melebar ke penyewaan villa, butik, apotik, dan lain-lain. Bahkan, relasi bisnisnya pun tidak lagi seputar Indonesia, namun, telah melebar ke beberapa negara, salah satunya adalah China.
Memang benar apa yang dikatakan pepatah Arab, “Man Jadda Wa Jada.” (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya).
InsyaLlah menjadi manfaat.
Kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, boleh jadi, justru kemiskinanlah yang menjadi ‘cambuk’ penyemangat dan motivasi untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Itulah yang dilakukan oleh Hadi beberapa puluhan tahun silam. Tak pingin terpuruk terus menerus dalam hal ekonomi, Hadi nekat untuk terus melanjutkan sekolah, sekalipun keinginannya tersebut bertentangan dengan kehendak kedua orang tuanya. Ia menyadari, bahwa, hanya ilmulah yang mampu mengangkat derajat keluarganya, khususnya, dirinya sendiri dari ketidakberdayaan hidup, terutama masalah ekonomi, “Nabi SAW kan pernah bersabda, bahwa barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka ilmulah kuncinya” ujar Hadi menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad SAW.
“Siapa yang akan membiayai sekolahmu? Wong makan saja kita sulit. Sudahlah, bantu saja bapak ngaret atau nyari kayu di hutan, ndak usah mikirin sekolah”. Demikianlah jawaban yang diterima Hadi, ketika ia menuturkan keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi lagi.
Waktu itu, Hadi baru lulus SD. Sekalipun dapat balasan yang negatif dari orangtua, tidak membuat Hadi uring-uringan. Dia faham, bahwa kondisilah yang menyebabkan mereka memiliki pemikiran demikian. sebab itu, dia menjelaskan kepada kedua orang tuanya, soal biaya sekolah, dia tidak akan membebani mereka, ”Saya akan mencari uang sendiri untuk biaya sekolah. Yang terpenting, ibu dan bapak mengizinkan saya sekolah,” tegas Hadi waktu itu, yang kemudian dikabulkan oleh ibu dan bapaknya.
Dari segi finansial, memang, waktu itu, keluarga Hadi tergolong keluarga papa. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja, mereka masih kelepotan. Hampir setiap hari, yang menjadi menu utama mereka adalah nasih putih dan sepotong tempe atau ikan asin, ”kalau lauknya ikan asin, semuanya harus habis, hatta kepala dan tulang-tulangnya. Kalau tidak, ibu akan marah. Dibilang mubadzir” kenang Hadi.
Karena itu, nyaris masa kanak-kanaknya digunakan untuk membantu orang tua menyari kayu atau merumput di hutan. Setiap sepulang sekolah, dia langsung tancap gas untuk menunaikan tugas-tugas tersebut, tak peduli panasnya terik sinar matahari atau derasnya guyuran hujan. Jadi, bisa dibilang, sejak dini, Hadi telah terlatih untuk hidup mandiri. Sebab itu, senyum sumringah nampak di wajahnya, ketika orang tuanya mengabulkan permohonannya untuk melanjutkan studi, sekalipun harus berjuang sendiri.
Merantau
Tidak lama setelah itu, Hadi kecilpun mulai menyusun rencana. Dia putuskan untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah Islam yang berlokasi di kota Surabaya. Padahal, daerah kelahirannya itu Lamongan. Jarak antar keduanya (Lamongan-Surabaya) ± 90 km.
Tidak berapa lama setibanya di kota pahlawan tersebut, Hadi langsung bergerak untuk mencari biaya hidup. Berbagai macam pekerjaan pernah dilakoni, salah satunya adalah sebagai sales roti. Jangan dibayangkan, dalam mengedarkan barang-barangnya, Hadi menggunakan sepedah motor, sehingga mempermudah jarak tempuh. Tidak sama sekali. Dia menggunakan sepedah pancal. Hampir setiap hari, Hadi harus menempuh berkilo-kilo meter perjalanan dengan mengayuh sepedah untuk menjajakan jualannya.
Selain tekun bekerja, ada kelebihan lain yang dimiliki Hadi. Dia mampu membaca peluang bisnis. Dan keistimewaan inilah yang kemudian hari, menyebabkannya menjadi orang sukses. Pernah suatu hari, kenangnya, dia menghadap kepala sekolah, untuk mengajukan diri menjadi fasilitator dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekolah/guru. –misal- pembuatan seragam guru. Bagai kejatuhan buah duren, sang-kepala sekolah pun mengabulkan. Dan dari sini, penghasilan Hadi mulai bertambah. Bahkan, meskipun tidak banyak, dia mampu mengirimi keluarganya uang, untuk belanja atau sebagai tambahan biaya sekolah adik-adiknya.
Siswa Berprestasi
Hadi bukanlah tipe anak yang hanya piawai dalam mencari ma’isyah (kehidupan). Dalam hal intelektualitas, dia juga tidak ketinggalan. Terbukti, hampir setiap semesteran, nilainya selalu yang terbaik, sehingga berhak mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Terang saja, kondisi demikian sedikit-banyak telah meringankan biaya hidupnya.
Selesai mengetaskan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Hadi langsung melanjutkan sutidanya (SMA) di almamater yang sama. Prestasi-prestasi akademis, terus dia peroleh, sehingga nyaris dia tidak pernah membayar uang sekolah.
Terakhir beasiswa dia dapatkan ketika dirinya dinyatakan lulus di salah satu Universitas Negeri ternama di kota yang sama, Surabaya. Hal ni diberikan pihak sekolah untuk jangka waktu satu semester kepadanya, sebagai bentuk apresiasi, karena Hadi merupakan alumnus pertama sekolah tersebut yang mampu lulus di universitas negeri,”sebelumnya tidak pernah ada yang lulus”, paparnya.
Ada kenangan yang tak terlupakan oleh Hadi, ketika dia dinyatakan lulus SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasis Baru) di universitas tersebut. Perasaan senang dan bingung, bahagia dan sedih bercampur aduk mengiringi kesuksesannya. Betapa tidak, sebagai calon mahasiswa, tentu dia bangga dengan kekeberhasilannya. Akan tetapi, di lain pihak, dia juga dibingungkan dengan biaya kuliah yang pastinya tidak sedikit.
Di tengah kekalutannya tersebut, Hadi memutuskan untuk berkonsultasi dengan pihak keluarga, terutama kepada sang-ayah dan ibu. Mendengar tuturan dari buah hatinya, air mata sang-ibu tak terbendung, membasahi kedua pipinya. Dengan suara agak tertahan oleh isakan tangis bahagia, perempuan tersebut menyerahkan sesuatu pada Hadi, ”Ini maskawin ibu. Ambillah untuk biaya kuliahmu,” tuturnya yang membuat Hadi agak merinding mendengarnya, yang kemudian juga mencucurkan air mata. Pada awalnya, pemberian tersebut ditolak oleh Hadi, namun, karena melihat begitu kerasnya keinginan bundanya tersebut, Hadipun mengambilnya sebagai bekal untuk kuliah.
Emas tersebut kemudia dijual oleh Hadi. Sebagian untuk biaya kuliah dan biaya hidupnya, sebagian lagi, untuk membuka bisnis warung kecil-kecilan. Setelah menyelesaikan studinya, yang memang fokus mengambil jurusan ekonomi, Hadi langsung terjun kelapangan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh.
Bisnis di area pelabuhan adalah incarannya. Hal itu dipilih, karena dia yakin bahwa pelabuhan merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, ”Di sinilah (pelabuhan), seluruh barang-barang ekspor/impor mangkal untuk pertama kali, sebelum diedarkan ke seluruh daerah/negara. Peluang ini yang saya tangkap”. terangnya menuturkan alasannya. Berkat keuletan Hadi, tak ayal, dari tahun ke tahun bisnisnya terus berkembang. Bahkan, kini Hadi telah menjadi salah satu milioder. Dia telah memiliki ratusan kayawan/karyawati. Bisnisnyapun telah melebar ke penyewaan villa, butik, apotik, dan lain-lain. Bahkan, relasi bisnisnya pun tidak lagi seputar Indonesia, namun, telah melebar ke beberapa negara, salah satunya adalah China.
Memang benar apa yang dikatakan pepatah Arab, “Man Jadda Wa Jada.” (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya).
InsyaLlah menjadi manfaat.
INDAHNYA TANGANMU IBU
" Hanya memberi, tak harap kembali
Baai sang surya menyinari dunia "
(AT.Mahmud)
Suasana Idul Fitri masih begitu terasa, meski telah berlalu seminggu kumandang syahdu takbir dari penjuru masjid-masjid di kota kecilku. Alhamdulillah lebaran ini begitu hangat terasa dengan berkumpul bersama keluarga tercinta. semua bersyukur memaknai indahnya kebersamaan di waktu bahagia ini.
Dan Di pagi mulia itu, ibuku sayang mengajakku menemaninya berbelanja ke pusat perbelanjaan, ingin membeli mukenah katanya, karena mukenah yang biasa dipakai untuk menemaninya bersujud shalat sudah mulai usang dan pudar warnanya.
Meski aku bukanlah orang yang sabar untuk berlama-lama tahan di pusat perbelanjaan,pasar, atau sejenisnya namun rasa itu menggerakkan hati ini untuk menemaninya, yaa menemani ibuku yang teramat ingin kubahagiakan.
Kami pun berangkat dan mengunjungi setiap toko yang menyediakan mukenah, lalu ibuku mencoba beberapa mukenah yang dipilih tetapi mengembalikannya kembali karena belum ada yang cocok. begitu katanya. Akupun mulai lelah dan ibu belum juga mendapatkan mukenah yang diinginkannya, Bukankah sama saja bu…?? Kan nantinya juga bisa dipakai untuk shalat, ujarku.. namun ibu hanya membalas pertanyaanku dengan senyumannya..yah..senyuman yang begitu menyejukkah hati.
Akhirnya, pada toko terakhir yang kami kunjungi, kulihat ibu kembali mencoba sebuah mukenah yang begitu cantik terlihat. Warna putih mukenah yang direnda lembut bersama dengan tali pengikatnya di bagian tepi leher, sungguh tak seperti biasa, dan dalam hati aku berguman semoga inilah akhir pencarian ini. Karena ketidaksabaranku, maka untuk pertama kali akupun mengikuti ibu masuk dan berdiri di depan cermin dalam ruang ganti untuk melihat ibu mencoba mukenah itu, aku melihat bagaimana ibu mencoba memakainya dan dengan susah paya mengikat talinya.
Ternyata pada pandanganku terlihat tangan ibu yang sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia susah melakukannya. Seketika keidaksabaranku berganti oleh rasa kasihan yang begitu mendalam. Akupun berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan airmata yang mengalir keluar tanpa kusadari. Aku begitu termenung dibuatnya. Lalu setelah mendapatkan ketenangan lagi akupun kembali menjumpai ibu yang sedang membayar di kasir karena jadi membeli mukenah tadi.
Mukenah itu begitu indah, dan perjalanan berbelanja kami berakhir, namun kejadian itu begitu terukir di dalam jiwaku dan tidak akan pernah dapat hilang dari ingatanku. Sepanjang sisa-sisa hari itu, fikiranku tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat dan memasang mukena putih itu. Kedua tangan yang penuh kasih sayang, yang pernah mebelai kepalaku dengan cinta, menyuapiku makan, memandikan tubuh kecilku dulu, memakaikan baju dan, terlebih dari itu semua, tangan itulah yang sering terangkat berdoa untk kebahagiaan dunia-akhirat anak-anaknya. Sekarang tangan itu pula yang telah menyentuh hatiku begitu lembut sehingga masuk dan membekas di dalam hati.
Senja menjelang, beberapa saat sebelum azan maghrib berkumandang dan sebelum kulangkahkan kaki menuju masjid, kuhampiri ibuku dikamarnya. Kuraih tangan itu, menciuminya dan kukatakan pada hatiku bahwa bagiku tangan itulah yang paling indah di dunia. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.. yang mengajarkan betapa mulianya kasih sayang seorang ibu. Sesaat, akupun membisikkan doa semoga suatu hari nanti tangan dan hatiku pun memiliki keindahannya tersendiri.
***
Baai sang surya menyinari dunia "
(AT.Mahmud)
Suasana Idul Fitri masih begitu terasa, meski telah berlalu seminggu kumandang syahdu takbir dari penjuru masjid-masjid di kota kecilku. Alhamdulillah lebaran ini begitu hangat terasa dengan berkumpul bersama keluarga tercinta. semua bersyukur memaknai indahnya kebersamaan di waktu bahagia ini.
Dan Di pagi mulia itu, ibuku sayang mengajakku menemaninya berbelanja ke pusat perbelanjaan, ingin membeli mukenah katanya, karena mukenah yang biasa dipakai untuk menemaninya bersujud shalat sudah mulai usang dan pudar warnanya.
Meski aku bukanlah orang yang sabar untuk berlama-lama tahan di pusat perbelanjaan,pasar, atau sejenisnya namun rasa itu menggerakkan hati ini untuk menemaninya, yaa menemani ibuku yang teramat ingin kubahagiakan.
Kami pun berangkat dan mengunjungi setiap toko yang menyediakan mukenah, lalu ibuku mencoba beberapa mukenah yang dipilih tetapi mengembalikannya kembali karena belum ada yang cocok. begitu katanya. Akupun mulai lelah dan ibu belum juga mendapatkan mukenah yang diinginkannya, Bukankah sama saja bu…?? Kan nantinya juga bisa dipakai untuk shalat, ujarku.. namun ibu hanya membalas pertanyaanku dengan senyumannya..yah..senyuman yang begitu menyejukkah hati.
Akhirnya, pada toko terakhir yang kami kunjungi, kulihat ibu kembali mencoba sebuah mukenah yang begitu cantik terlihat. Warna putih mukenah yang direnda lembut bersama dengan tali pengikatnya di bagian tepi leher, sungguh tak seperti biasa, dan dalam hati aku berguman semoga inilah akhir pencarian ini. Karena ketidaksabaranku, maka untuk pertama kali akupun mengikuti ibu masuk dan berdiri di depan cermin dalam ruang ganti untuk melihat ibu mencoba mukenah itu, aku melihat bagaimana ibu mencoba memakainya dan dengan susah paya mengikat talinya.
Ternyata pada pandanganku terlihat tangan ibu yang sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia susah melakukannya. Seketika keidaksabaranku berganti oleh rasa kasihan yang begitu mendalam. Akupun berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan airmata yang mengalir keluar tanpa kusadari. Aku begitu termenung dibuatnya. Lalu setelah mendapatkan ketenangan lagi akupun kembali menjumpai ibu yang sedang membayar di kasir karena jadi membeli mukenah tadi.
Mukenah itu begitu indah, dan perjalanan berbelanja kami berakhir, namun kejadian itu begitu terukir di dalam jiwaku dan tidak akan pernah dapat hilang dari ingatanku. Sepanjang sisa-sisa hari itu, fikiranku tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat dan memasang mukena putih itu. Kedua tangan yang penuh kasih sayang, yang pernah mebelai kepalaku dengan cinta, menyuapiku makan, memandikan tubuh kecilku dulu, memakaikan baju dan, terlebih dari itu semua, tangan itulah yang sering terangkat berdoa untk kebahagiaan dunia-akhirat anak-anaknya. Sekarang tangan itu pula yang telah menyentuh hatiku begitu lembut sehingga masuk dan membekas di dalam hati.
Senja menjelang, beberapa saat sebelum azan maghrib berkumandang dan sebelum kulangkahkan kaki menuju masjid, kuhampiri ibuku dikamarnya. Kuraih tangan itu, menciuminya dan kukatakan pada hatiku bahwa bagiku tangan itulah yang paling indah di dunia. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.. yang mengajarkan betapa mulianya kasih sayang seorang ibu. Sesaat, akupun membisikkan doa semoga suatu hari nanti tangan dan hatiku pun memiliki keindahannya tersendiri.
***
Selasa, 05 Oktober 2010
Andaikata Aku Bisa Memberi Lebih Banyak Lagi...
Seperti yang telah biasa dilakukan ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.
Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Istrinya almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?”. “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikata lebih jauh lagi…andaikata yang masih baru…..andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.
Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “Andaikan lebih jauh lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.
Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.
Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.
Begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri. “Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7)
Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Istrinya almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?”. “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikata lebih jauh lagi…andaikata yang masih baru…..andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.
Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “Andaikan lebih jauh lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.
Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.
Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.
Begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri. “Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7)
Kamis, 27 Mei 2010
Ulat bulu berubah menjadi Kupu-kupu yg indah.
Ulat bulu berubah menjadi Kupu-kupu yg indah.
Disuatu hari di negri dongeng ada seorang hamba memohon mendapatkan binatang yang indah.
Namun sihamba itu mendapatkan sebuah ulat bulu yang menjijikan.
Sihamba bergumam, saya minta hewan yg indah dilihat , kenapa yg diberi justru hewan yg menjijikkan ?
Dengan agak berat hati si hamba merawat ulat ini dengan memberinya dedaunan yang dicarinya dari hutan.
Hari demi hari dia lalui sambil memikirkan " setiap kejadian pasti ada hikmahnya, namun apa hikmahnya ya ? "
Dan pada saatnya si ulat berubah menjadi kempompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah.
Si hamba dengan riangnya berkata " wow ini dia binatang yg saya inginkan " terimakasih Alloh.
Pelajaran:
Pernahkah rekan berharap untuk mendapatkan keuntungan yg banyak dari lapaknya, namun Alloh berkehendak lain ?
Boleh jadi apa yg buruk dipandanganmu, itu mulia disisiNya.
Alloh sesuai dengan prasangka hambanya.
Keep semangat untuk berdo'a yg baik, iktiar dan pasrah.
Disuatu hari di negri dongeng ada seorang hamba memohon mendapatkan binatang yang indah.
Namun sihamba itu mendapatkan sebuah ulat bulu yang menjijikan.
Sihamba bergumam, saya minta hewan yg indah dilihat , kenapa yg diberi justru hewan yg menjijikkan ?
Dengan agak berat hati si hamba merawat ulat ini dengan memberinya dedaunan yang dicarinya dari hutan.
Hari demi hari dia lalui sambil memikirkan " setiap kejadian pasti ada hikmahnya, namun apa hikmahnya ya ? "
Dan pada saatnya si ulat berubah menjadi kempompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah.
Si hamba dengan riangnya berkata " wow ini dia binatang yg saya inginkan " terimakasih Alloh.
Pelajaran:
Pernahkah rekan berharap untuk mendapatkan keuntungan yg banyak dari lapaknya, namun Alloh berkehendak lain ?
Boleh jadi apa yg buruk dipandanganmu, itu mulia disisiNya.
Alloh sesuai dengan prasangka hambanya.
Keep semangat untuk berdo'a yg baik, iktiar dan pasrah.
Langganan:
Postingan (Atom)