Rabu, 29 April 2009

Titip Ibuku ya Allah..

"Nak, bangun. udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja, "Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. "Ibu sayang. ga usah repot-repot Bu, aku dan adikku udah dewasa" pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca. Orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ... tapi entahlah..

Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,"Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? "Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . Terbata-bata Ibu berkata, "Tiba- tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri "Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing. Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab, " Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagai mana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kalibinar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua. "Lagi-lagi aku hanya bisa berucap, "Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. "Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun.

Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi. Ah, maafkan kami Ibu . 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah? " Nak. bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan," Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu.". Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu,Ibu. ..Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu. Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat " aku sayang padamu. ", namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita. Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada. Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

Wallaahua'lam

"Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil.

Titip Ibuku ya Allah..


cerita ini sy dapet dari mail tetangga sebelah.. aNNa, makasih ya! ceritanya begitu terharu sekaligus menginspirasi Rie buat lebih baik lagi.... untuk ibu kita...

Selasa, 07 April 2009

PELAJARAN BERHARGA

. Pelajaran Penting ke-1
>
> Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor
> memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua
> kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai
> pada
> soal yang terakhir.
>
> Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa nama depan wanita
> menjadi petugas pembersih sekolah ?.
>
> Saya yakin soal ini cuma 'bercanda'. Saya sering
> melihat perempuan ini. Tinggi,berambut gelap dan berusia sekitar 50-an,
> tapi
> bagaimana saya tahu nama depannya... ? Saya kumpulkan saja kertas ujian
> saya,
> tentu saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai,
> seorang
> rekan bertanya pada Profesor itu, mengenai soal terakhir akan
> 'dihitung' atau tidak.
>
> 'Tentu Saja Dihitung !!' kata si Profesor.
>
> 'Pada perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak
> orang. Semuanya penting!.
>
> Semua harus kamu perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma
> dengan sepotong senyuman, atau sekilas 'hallo'!
>
> Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu, bahwa
> nama depan ibu pembersih sekolah adalah 'Dorothy'.
>
>
> 2. Pelajaran Penting ke-2 Penumpang yang Kehujanan
>
> Malam itu , pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita
> negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama .
>
> Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras,
> yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan
> perempuan ini sangat ingin menumpang mobil.
>
> Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap
> mobil yang lewat.
> Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia
> berhenti untuk menolong ibu ini.
>
>
>
> Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis
> tahun 1960-an, yaitu pada saat itu.
>
> Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga
> suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini
> taksi.
>
> Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya
> tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih
> pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini
> diketuk Seseorang.
>
> Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah
> televisi set besar berwarna (1960-an !) khusus dikirim kerumahnya.
>
> Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah : 'Terima
> kasih nak, karena membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan
> tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku.
>
> Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena
> pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang
> sekarat...hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan
> tidak mementingkan dirimu pada saat itu' Tertanda Ny.Nat King Cole.
>
> Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn.
> 60-an di USA
>
>
> 3. Pelajaran penting ke-3 :Selalulah perhatikan dan ingat,
> pada semua yang anda layani.

>
> Di zaman eskrim khusus (ice cream sundae) masih murah,
> seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop Hotel, dan
> duduk di meja.
>
> Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air
> putih dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya 'Berapa ya,... harga satu
> ice cream sundae?'
>
> katanya. '50 sen...' balas si pelayan. Si anak
> kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan mempelajari koin-koin
> di
> kantongnya.. ..
>
> 'Wah... Kalau ice cream yang biasa saja berapa?'
> katanya lagi. Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain
> sudah mulai
> banyak... dan pelayan ini mulai tidak sabar. '35 sen' kata si pelayan
> sambil
> uring-uringan. Anak ini mulai menghitungi dan mempelajari lagi koin-koin
> yang tadi dikantongnya. 'Bu... saya pesen yang ice cream biasa saja
> ya...'ujarnya. Sang pelayan kemudian membawa ice cream
> tersebut, meletakkan kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos
> berjalan.
>
>>Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi.
>
> Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan
> meja si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu.
>
> Rapi tersusun disamping piring kecilnya yang kosong, ada 4
> buah koin 10-sen dan 10 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat... anak kecil ini
> tidak bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk
> memberi
> sang pelayan uang tip yang 'layak'..... .
>
>
> 4. Pelajaran penting ke-4 - Penghalang di Jalan Kita
>
> Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang
> menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut
> kemudian
> bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau menyingkirkan batu itu dari
> jalan.
>
> Beberapa pedagang terkaya yang menjadi rekanan raja tiba
> ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut. Banyak juga yang
> datang, kemudian memaki-maki sang Raja, karena tidak membersihkan jalan
> dari
> rintangan.Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan
> menyingkirkan batu itu.
>
> Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak
> sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian meletakkan
> dahulu , dan mencoba memindahkan batu itu kepinggir jalan.
>
> Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya ia
> berhasil menyingkirkan batu besar itu.
>
> Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya,
> ternyata ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas dan
> surat
> Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk orang yang mau
> menyingkirkan batu tersebut dari jalan.
>
> Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak
> pernah bisa mengerti.
>
> Bahwa pada dalam setiap rintangan, tersembunyi kesempatan
> yang bisa dipakai untuk memperbaiki hidup kita.
>
>
> 5. Pelajaran penting ke-5 - Memberi, ketika dibutuhkan.
>

> Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan yang
> bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang gadis kecil
> yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit serius yang sangat
> jarang.
>
> Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria
> kecil yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit yang
> sama.
> Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk melawan penyakit itu..
> Dokter
> kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal tersebut ke anak
> kecil
> ini, dan bertanya apakah ia siap memberikan darahnya kepada kakak
> perempuannya.
>
> Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum
> mengambil nafas panjang dan berkata 'Baiklah... Saya akan melakukan hal
> tersebut.... asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku'. Mengikuti proses
> tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat tidur,disamping kakaknya.
> Wajah
> sang kakak mulai memerah, tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya
> menghilang. Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang
> bergetar...katanya 'Apakah saya akan langsung mati dokter...?'Rupanya si
> kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia harus
> menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.
>
>
>
> Lihatlah...bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya... .
>
>
> * Bekerjalah seolah anda tidak memerlukan uang,
>
> * Mencintailah seolah anda tidak pernah dikecewakan,
>
> * Menari & nyanyilah seolah tidak ada yang nonton.
>
>
>
> ... DALAM GELAPNYA MALAM, KITA JUSTRU DAPAT MELIHAT
> INDAHNYA BINTANG...
>

Rabu, 18 Maret 2009

PEKERJA KERAS

Ada seorang ibu karyawan tua di kantor dulu tempat saya bekerja. Saya tahu penghasilan yang ia peroleh kecil dan mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dalam satu bulan. Anehnya ia tidak pernah mengeluh, atau menyesali pekerjaannya. Ia selalu bersemangat dalam bekerja. Ia menunjukkan disiplin yang tinggi dalam bekerja. Selalu datang sebelum jam kantor, dan pulang tepat pada waktunya.

Sekian lama saya mengamati karyawan penuh disiplin itu. Suatu saat selepas sholat saya berbincang-bincang dengannya.

“Ibu selalu disiplin ya,” kataku mengawali pembicaraan.

“Disiplin kepripun to Dok?” jawabnya.

“Nggak bu, itu saya lihat ibu selalu disiplin bekerja. Datang pagi, pulang tepat waktu meski pekerjaan telah selesai. Bukannya itu disiplin bu namanya? Padahal saya tahu, sudah puluhan tahun ibu bekerja dan gaji ibu –nyuwun sewu kan kecil. Kok bisa bu?”

“Wah saya ini hanya orang kecil Pak Dokter. Masih ada yang mau menggaji saya saja sudah alhamdulillah. Coba bayangkan jika saya tidak bekerja di sini, mungkin keadaan keluarga saya jauh lebih buruk dari sekarang. Jika mengingat hal itu Dok, rasanya sudah pantas kalau saya membalasnya dengan kerja yang baik, tidak korupsi waktu, dan tidak banyak mengeluh. Saya sangat bersyukur sekali lho Dok, bisa bekerja,” urai ibu karyawan itu tanpa sedikitpun unsur kesombongan di dalamnya. Lalu ditambahnya, “Pekerjaan kita insya Allah sudah halal, jadi kalau bisa jangan kita hilangkan barokahnya dengan mengurangi timbangan.” –Maksudnya ibu ini adalah jangan korupsi di semua aspek, termasuk yang sering yaitu korupsi waktu.

Betapa terpukau saya mendengar penuturan polos dari ibu ini. Di saat orang-orang menuntut kenaikan gaji, menuntut dapat insentif sana-sini, berlomba korupsi sana-sini, berlomba mencari kedudukan dengan segala cara, ibu ini telah mengajarkan suatu yang saat ini baru saya temui. Sebuah rasa SYUKUR. Mungkin waktu sekolah dulu saya telah diajari tentang bagaimana syukur itu, bahwa Allah akan menambah rejeki bagi mereka yang bersyukur. Namun dalam kehidupan sehari-hari inilah contoh yang saya lihat. Betapa indahnya. Dan benarlah firman Allah dalam QS. Ibrahim (14) ayat 7

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Saya lihat kehidupan ibu karyawan itu memang sederhana, namun semua putranya tidak ada yang sampai meninggalkan bangku sekolah. Saya tidak mengerti bagaimana ia bisa membiayai sekolah putra-putranya, padahal suaminya sendiri hanya bekerja serabutan. Namun begitulah ketetapan Allah. Dan terima kasih bu, saya mendapat pelajaran berharga hari ini.

...
Kita memiliki 4 minggu yang sama dalam 1 bulan.
7 hari yang sama dalam 1 minggu
24 jam yang sama dalam 1 hari

Dalam 24 jam itu
Ada dari kita yang bisa mengurus negara, perusahaan raksasa
Rumah Sakit Internasional bahkan mengendalikan Angkatan Perang
.........
Namun dalam 24 jam yang sama
Ada yang bahkan mengurus dirinya sendiri saja tidak mampu....

Ada di antara kita yang menerima bayaran 5 juta rupiah
Dan selalu kekurangan dalam setiap bulannya
Sehingga ia harus menutupnya dengan berutang sana-sini
Dan ia semakin terjerat karenanya

Namun ada yang hanya menerima 500 ribu rupiah
Ia bisa mengembangkan bisnisnya
Bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi
Bisa menyisihkan sebagian untuk tabungan
Bisa menyisihkan sebagian untuk kaum miskin
Bahkan ia bisa membawa serta kedua orang tuanya naik haji.

Dimanakah letak perbedaanya? Apakah waktu dan penghasilan yang kurang? Bukan, tetapi rasa syukur dan manajemenlah yang berbeda dari keduanya

KEKUATAN AIR MATA

Ia hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitas mahasiswa. Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Suka menyapa, perhatian, dan ringan tangan. Saya baru mengenalnya ketika mengikuti sebuah acara seminar. Ia tampil sebagai pemateri. Air mukanya yang jernih dan tenang telah mampu menarik perhatian setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dari ilmu dan hikmah. Sehingga kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya.

Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia sering ditemukan asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa . Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti. Kendati demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diri bermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat, bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yang ada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya ingin mengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan kejernihan hati dan pikirannya.

Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya, bahwa ia sering kedapatan menangis. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis. Ketika ditanya kenapa ia menangis, ia berkata, "Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan saya tidak tahu apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorga ataukah neraka."

Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri di sampingnya. Dan saat itu imam membaca ayat, "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, "celakalah aku". Dan dia akan masuk kedalam api yang menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira dikalangan kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (Al-Insyiqâq: 10-15 ). Saya mendengar ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan air mendidih dari rongga dadanya.

Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas di wajahnya. Hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh dengan Al-Qur`ân.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, para Al-Salafus Sâlih. Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra. sering membaca surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannya terdengar ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra. membaca surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanya pada Allah saya mengadukan kesusahan dan kesedihanku. " ( Yusuf : 86 )

Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagi terdengar ke belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membaca ayat-ayat Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilah perasaan takut pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akan menggetarkan dan membuat takut hati raja-raja besar.

Rasulullah Saw. bersabda, "Akar dari kebijaksanaan adalah takut kepada Allah."

Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah." (Ar-Rahman: 37), maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, "Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku." Nabi berkata padanya, "Tangisanmu membuat para malaikat ikut menangis bersamamu."
Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, "Kenapa engkau menangis?" istrinya menjawab, "Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis." Abdullah berkata, "Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak."

Rasulullah Saw. bersabda : "Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka." Beliau juga bersabda, "Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya."

Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?", "Ia" jawab Nabi. "Dia adalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan."

Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, "Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya."

Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosa dan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.

Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat siksa-Nya. Wallâhul musta`ân wa a`lam

Minggu, 01 Maret 2009

LELAKI SEMESTA

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka
menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terj adi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menj adi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan
apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar
dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,
sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah
tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin
sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak
ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... . ..bahkan bapak tidak
ijinkan kami menjaga ibu" .

dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg
keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan
mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban
seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan
merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka."
Anak2ku .......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu,
mungkin bapak akan menikah..... tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian
disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..
sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadi r
didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan
apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya
seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia
meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak
yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan
ibumu yg masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno
merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu
suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV
swasta untuk menj adi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg
hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru
disitulah pak Suyatno bercerita.

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya,
tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian )
adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup
saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya
dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4
orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

Rabu, 18 Februari 2009

BAGIAN PENTING TUBUHMU

Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting.
Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.
Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia,
jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi ternyata itu bukan jawabannya.

"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakannnya lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi.
Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar.
Jadi, kali ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."

Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun,
anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis.
Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku
ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir bahwa ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku,
"Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup"," kata Ibu.
"Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat
pelajaran yang sangat penting," lanjutnya.

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting
adalah bahumu."

Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"

Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku
cuma berharap kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya. "

Akhirnya aku tahu bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain.

Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Mereka pun akan melupakan apa yang kamu lakukan.
Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka BERARTI.